Ketua Komisi A DPRD Sumut: Kelebihan Iuran BPJS Januari dan Februari Harus Dikembalikan Pada Masyarakat

Kelebihan Iuran BPJS Januari dan Februari Harus Dikembalikan Pada Masyarakat
Ketua Komisi A DPRD Sumut Hendro Susanto.

MEDAN – Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, dapil sumut 12 (Binjai dan Langkat) mengapresiasi dan menyambut positif terhadap keputusan Mahkamah Agung RI yang membatalkan kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada februari 2020 kemarin.

Hendro Susanto yang juga Ketua Komisi A DPRD Propinsi Sumatera Utara ini kepada wartawan, Rabu (11/3/2020) menegaskan bahwa Pemerintah/Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan harus mengembalikan kelebihan iuran yang sudah dibayarkan peserta pada Januari dan Februari 2020. Hak masyarakat mendapatkan kesehatan dijamin dalam UUD 1945 selain hak mendapatkan pendidikan. Pemerintah/BPJS Kesehatan harus segera menyusun teknis pengembalian uang tersebut.

Langkah tersebut, menurut dia, harus dilakukan menyusul putusan Mahkamah Agung (MA) terkait pembatalan Peraturan Presiden (Perpres) No. 75 Tahun 2019 tentang Perubahan atas Perpres No. 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan.

“Jika pemerintah konsisten terhadap konsep “equality before the law” dan “rule of law”, putusan MA wajib dilaksanakan,” ujarnya.

Teknis pengembalian, menurut dia, harus segera disusun melalui regulasi/tupoksi agar masyarakat, dalam hal ini peserta BPJS Kesehatan, segera mendapatkan kepastian hukum dan uangnya kembali. Regulasi/tupoksi tersebut juga diperlukan agar aparat di lapangan tidak kebingungan.

Baca Juga :  Seorang Pelaku Curanmor Dihadiahi Pelor Panas

“Prinsipnya, jangan sampai hak-hak konsumen yang sudah membayar iuran dikurangi atau dirugikan,” tuturnya, jangan pemerintah dzhalim pada masyarakat.

Hendro mengatakan, jika kelebihan iuran Januari dan Februari tidak dikembalikan, peserta BPJS Kesehatan bisa menyelesaikan persoalan tersebut melalui Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) yang ada di Kabupaten/kota se-Indonesia.

Hak itu diatur dalam Pasal 23 jo Pasal 45 ayat (3) UU No.8/1999 tentang Perlindungan Konsumen.

“Ini bisa menjadi opsi penyelesaian sengketa secara cepat, sederhana, dan biaya ringan,” ujarnya.

Ia juga meminta agar pemerintah tidak arogan, otoriter, dan sewenang-wenang, dengan mengabaikan putusan MA. Apalagi, Indonesia adalah negara hukum “rechtsstaat” atau “rule of law”.

“Sebetulnya pembuat dan penandatangan Perpres No. 75 Tahun 2019 harus malu sampai MA membatalkan hasil kerja mereka. Hak itu membuktikan bahwa peraturan tersebut bertolakbelakang dengan kondisi/aspirasi masyarakat,” kata hendro.

Baca Juga :  Dewan : Banyak Masalah di Dapil II Soal Covid-19, BLT, BST dan JPS

Ia menuturkan, dalam persoalan BPJS Kesehatan sejatinya bukan hanya kenaikan iuran yang melanggar perundang-undangan.

Peraturan tentang pengenaan sanksi kepada masyarakat yang menunggak iuran dengan tidak melakukan pelayanan publik pun ia nilai melanggar UUD 1945 dan UU No. 25 Tahun 2009.

Harusnya negara hadir dalam membantu masyarakat, banyak hal yang menjadi sorotan dan aduan dari masyarakat, mulai dari fasilitas kesehatan baik tingkat I dan rujukan harus diperbaiki dan di monitoring secara berkala, klaim RS RS se Indonesia yang BPJS Kesehatan masih nunggak 4 sampai 5 bln harus segera dibayarkan, agar tidak terganggu pelayanan kesehatan pada pasien BPJS. (MP/TIM)

pasang iklan