oleh

Rajab Ritonga Raih Gelar Profesor

JAKARTARajab Ritonga, mantan Direktur Kantor Berita Antara selaku Direktur Uji Kompetensi Wartawan (UKW) PWI Pusat dinobatkan menjadi profesor berdasar Keputusan Menristek RI No 30121/M/KP/2019 tertanggal 5 September 2019.

Pemberian gelar tertinggi dalam bidang akademik itu berlangsung di Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) Wilayah III Jakarta, Jumat (04/10/2019).

Prof Rajab Ritonga mendapat SK Guru Besar bersama dua guru besar lain yakni, Prof Nurul Huda dari Universitas Yarsi dan Prof Wiryanto Dewobroto dari Universitas Pelita Harapan. Rajab merupakan guru besar ke-235 di lingkungan LL Dikti Wilayah III Jakarta.

“Terimakasih kepada Menristek Bapak Muhamad Nasir yang memberi amanah ini. Semoga saya dapat menjalankannya,” kata Rajab yang juga dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof Dr Moestopo, Jakarta.

Selain mengajar di Universitas Moestopo, ia juga mengajar di Sekolah Kajian Strategik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia dan Universitas Pertahanan Indonesia.

BACA JUGA:  Cegah Perpecahan, Polres Serang Buat Roti

Dirjen Sumber Daya Iptek, Prof Gufron mengatakan, hendaknya para profesor baru tidak merasa puas untuk berkarya setelah menjadi guru besar. “Kalau sudah guru besar, justru harus lebih produktif. Jangan berhenti melakukan penelitian,” sebutnya.

Rajab Ritonga merupakan wartawan aktif yang menjadi profesor. Dia adalah Pemimpin Redaksi Portal Berita Telaah Strategis (www.telstrat.online) terbitan Lemhannas dan Indomaritim.id (www.indomaritim.id) berita kemaritiman Indonesia.

Ia juga menjabat Pemimpin Redaksi Jurnal Komunikasi (www.jurnal-iski.or.id) jurnal ilmiah terbitan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia diakreditasi Kemenristekdikti.

Sejak 2001, lulus magister dari SKSG UI, Rajab mengajar di Universitas Moestopo sambil berkarya sebagai wartawan di Kantor Berita Antara. Pemegang kartu kompetensi wartawan utama ini kini tercatat sebagai asesor jurnal ilmiah nasional untuk katagori jurnal ilmu sosial humaniora.

Wartawan kelahiran Sipirok, Sumatera Utara, 60 tahun lalu itu juga merupakan doktor pertama bidang ilmu komunikasi di Indonesia yang mendalami permasalahan kantor berita. Dia menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Universitas Indonesia pada 2007 saat menjabat Direktur SDM dan Umum Perum LKBN Antara.

BACA JUGA:  Perihatin Teror Bom Surabaya, Polisi dan Masyarakat Sibolga Silahturahmi Penandatanganan Pernyataan Sikap Bersama

Lulusan Lemhannas RI (PPSA-18) 2012 itu memulai karir kewartawanannya di Kantor Berita Antara, setelah lulus dari Departemen Komunikasi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta 1986. Sebelumnya dia menjadi wartawan Suratkabar Kedaulatan Rakyat Yogyakarta 1985.

Semasa aktif menjadi wartawan lapangan dia ditempatkan pada pos liputan olahraga, Hankam/ABRI, politik dan istana kepresidenan pada masa Presiden Soeharto, BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid. Pernah menjadi Kepala Biro LKBN Antara Propinsi Riau di Pekanbaru.

Dengan pengangkatan sebagai guru besar, dia memperkuat sumber daya wartawan Indonesia ke jenjang jabatan akademik tertinggi. Saat ini tercatat tiga mantan wartawan bergelar profesor yakni Prof Burhan Magenda, Prof Zulhasril Nasir, keduanya dosen FISIP UI dan Prof Salim Said dari Universitas Pertahanan Indonesia.

“Paling lambat akhir tahun ini, upacara pengukuhan dilaksanakan,” tukasnya.(MP/Red)

Komentar

Berita Populer