Dari IGD ke Rumah, Cerita Keluarga Kutar Merasakan Pelayanan RSU Bidadari Batubara

Oleh: Alpian

Kekhawatiran itu datang bersama sebuah perjalanan menuju rumah sakit.

Kutar, 75 tahun, warga Dusun 7, Desa Empat Negeri, Kecamatan Datuk Limapuluh, Kabupaten Batubara, harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum (RSU) Bidadari Batubara ketika kondisi kesehatannya membutuhkan penanganan medis.

Bagi keluarganya, saat itu bukan waktunya banyak bertanya. Yang mereka pikirkan hanya satu: bagaimana agar Kutar segera mendapat pertolongan.

Begitu tiba di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD), sejumlah petugas kesehatan langsung bergerak. Pemeriksaan dilakukan. Kondisi Kutar dinilai. Tak lama kemudian, dokter mengambil keputusan untuk melakukan tindakan operasi.

Keluarga menunggu.

Beberapa jam kemudian, operasi selesai. Hasilnya baik.

Namun, bagi keluarga Kutar, rasa lega itu belum sepenuhnya datang. Operasi hanyalah satu bagian dari perjalanan pengobatan. Setelahnya, masih ada masa pemulihan yang harus dilewati.

Kutar kemudian dirawat di ruang Intensive Care Unit (ICU) selama satu malam.

Di tengah kekhawatiran keluarga melihat orang tuanya harus berada di ruang intensif, seorang perawat memberikan penjelasan yang membuat mereka lebih tenang.

“Masuk ruang ICU bukan berarti gawat, tetapi supaya lebih intensif lagi perawatannya pascaoperasi,” kata perawat tersebut kepada keluarga.

Penjelasan sederhana itu menjadi bagian kecil dari pengalaman yang dirasakan keluarga Kutar selama berada di RSU Bidadari Batubara.

Sehari kemudian, kondisi Kutar membaik. Ia dipindahkan dari ICU ke ruang rawat inap.

Di sana, pemantauan kembali berlanjut. Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan dan perawatan terhadap kondisi Kutar. Hari demi hari, pemulihan berjalan.

Sampai akhirnya, setelah beberapa malam menjalani perawatan, Kutar diperbolehkan pulang.

Ada satu catatan yang ikut dibawa keluarga: Kutar tetap harus menjalani kontrol untuk memastikan kondisi pascaoperasi terus membaik.

Baca Juga:  20 Geng Motor Diringkus Polisi di Medan, 1 Orang Tewas

Yang Diingat Keluarga Pasien

Bagi Eliya, salah seorang anak Kutar, pengalaman tersebut bukan sekadar tentang operasi yang berjalan baik.

Ia mengingat bagaimana ayahnya ditangani sejak tiba di IGD, dipantau selama berada di ICU, kemudian dirawat di ruang rawat inap hingga akhirnya diperbolehkan kembali ke rumah.

“Saat itu ayah saya masuk ke ruang IGD untuk menjalani pemeriksaan. Beberapa petugas kesehatan langsung sigap memeriksa dan menangani ayah saya,” ujar Eliya.

Menurut dia, perhatian terhadap kondisi pasien terus dirasakan selama menjalani perawatan.

“Pelayanan di RSU Bidadari Batubara sangat memuaskan. Petugas kesehatan ramah, kamar bersih, serta sarana dan prasarana yang lengkap mampu memberikan pelayanan yang terbaik untuk pasien,” katanya.

Pengalaman sebuah keluarga mungkin tampak sederhana dari luar: datang ke rumah sakit, menjalani tindakan medis, dirawat, kemudian pulang.

Tetapi bagi keluarga pasien, setiap tahap memiliki arti.

Ada kecemasan ketika pasien masuk IGD. Ada penantian ketika operasi berlangsung. Ada kekhawatiran ketika pasien berada di ICU. Dan ada kelegaan ketika dokter akhirnya mengizinkan pasien pulang.

Di antara tahapan-tahapan itu, pelayanan tenaga kesehatan menjadi bagian yang ikut membentuk pengalaman keluarga.

Ketika Pelayanan Tak Hanya Bicara Soal Pengobatan

Bagi RSU Bidadari Batubara, pengalaman pasien menjadi bagian dari upaya rumah sakit memperkuat kualitas pelayanan.

Komisaris RSU Bidadari Group, Letkol Inf Dr Muhidin, SH, M.I.P, mengatakan rumah sakit terus mendorong pelayanan yang cepat, profesional, ramah dan berkualitas.

Menurut Muhidin, peningkatan kualitas pelayanan menjadi prioritas. Upaya itu dilakukan melalui peningkatan kompetensi tenaga medis dan tenaga kesehatan, penyediaan fasilitas penunjang serta penerapan standar pelayanan yang mengutamakan keselamatan dan kenyamanan pasien.

“Peningkatan kualitas pelayanan menjadi prioritas utama,” ujar Muhidin, Rabu (12/8).

Baca Juga:  SMSI dan JMSI Batubara Kolaborasi Berbagi Takjil dan Buka Puasa Bersama

Ia mengatakan pembenahan tidak hanya dilakukan pada aspek pelayanan medis. Berbagai sektor di rumah sakit juga terus diperbaiki untuk meningkatkan mutu layanan sekaligus membangun kepercayaan masyarakat.

Bagi pasien, kata dia, pelayanan kesehatan harus memberikan rasa aman dan nyaman selama menjalani proses pengobatan.

“Kami berkomitmen memberikan pelayanan kesehatan yang prima kepada seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang pasien. Kepuasan dan keselamatan pasien merupakan prioritas utama dalam setiap pelayanan yang kami berikan,” katanya.

Ada pula hal lain yang menurut Muhidin tidak kalah penting: manusia yang berada di balik pelayanan itu sendiri.

Tenaga kesehatan, kata dia, dituntut tidak hanya bekerja secara profesional, tetapi juga memiliki integritas dan empati. Sebab, rumah sakit berhadapan dengan orang-orang yang datang dalam kondisi rentan—pasien yang membutuhkan pertolongan dan keluarga yang menunggu dengan kecemasan.

“Seluruh tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan pelayanan yang humanis sehingga pasien dan keluarga merasa nyaman selama menjalani proses pengobatan,” ujarnya.

Muhidin pernah menjabat sebagai Dandim 0729/Bantul periode 2024-2025 dan Danyonif Raider 112/DJ Kodam Iskandar Muda.

Ia mengatakan RSU Bidadari Batubara akan terus berupaya meningkatkan kualitas pelayanan agar menjadi rumah sakit yang dipercaya masyarakat Kabupaten Batubara dan daerah sekitarnya.

Pulang Membawa Harapan

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah pelayanan kesehatan tidak selalu berhenti pada tindakan medis.

Ada pasien yang datang dalam kondisi membutuhkan pertolongan, menjalani pemeriksaan, tindakan, pemulihan, lalu kembali ke rumah.

Seperti Kutar.

Ia datang ke rumah sakit bersama kecemasan keluarganya. Setelah menjalani operasi, perawatan di ICU dan beberapa malam di ruang rawat inap, ia akhirnya diperbolehkan pulang.

Masih ada kontrol. Masih ada proses pemulihan.

Namun setidaknya, perjalanan itu telah sampai pada satu titik yang paling ditunggu keluarga: membawa orang yang mereka cintai kembali ke rumah.

Baca Juga:  Sat Resnarkoba Polres Tebing Tinggi Gagalkan Transaksi Sabu, Seorang Pengedar Diamankan

Bagi RSU Bidadari Batubara, cerita Kutar menjadi satu pengalaman dari banyak pasien yang menjalani perawatan. Bagi keluarganya, pengalaman itu adalah ingatan tentang bagaimana sebuah rumah sakit menyambut pasien ketika mereka datang dalam keadaan membutuhkan pertolongan.

Di antara bunyi aktivitas rumah sakit, ruang IGD, kamar rawat inap dan jadwal kontrol, ada satu hal yang paling sederhana sekaligus penting bagi pasien dan keluarganya: merasa ditangani, diperhatikan dan tidak sendirian ketika sedang menghadapi masa sulit.

Penulis

  • Alpian

    Alpian adalah wartawan Metropublik.com yang aktif meliput isu pemerintahan kabupaten Batubara, hukum, politik, dan sosial kemasyarakatan di Sumatera Utara.