Batubara – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) terus memperkuat komitmennya dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui pengembangan ekosistem industri hijau yang berorientasi pada keberlanjutan. Berbagai inovasi ramah lingkungan terus diterapkan sebagai bagian dari strategi perusahaan untuk mendukung pengurangan emisi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.
Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Inalum, Utrich Farzah, mengatakan perusahaan mengedepankan efisiensi sumber daya, pengurangan emisi karbon, serta pelestarian lingkungan dalam setiap proses bisnisnya sebagai bentuk tanggung jawab terhadap alam dan generasi mendatang.
“Sebagai perusahaan yang mendapat amanah pemerintah dalam mengelola sumber daya alam, Inalum tidak hanya berfokus pada penciptaan nilai ekonomi, tetapi juga memastikan seluruh proses bisnis berjalan selaras dengan prinsip-prinsip keberlanjutan,” ujarnya, Senin (20/7/2026).
Salah satu langkah strategis yang telah dilakukan Inalum adalah menerbitkan Environmental Product Declaration (EPD) untuk produk Aluminium Ingot G1. Deklarasi lingkungan tersebut telah terdaftar dalam The International EPD System dan berlaku hingga tahun 2030, sebagai bentuk transparansi perusahaan terhadap dampak lingkungan produknya.
Dalam mendukung target penurunan emisi, Inalum juga menerapkan berbagai teknologi ramah lingkungan di kawasan operasionalnya. Di antaranya memanfaatkan energi listrik yang bersumber dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), mengoperasikan sistem pembersihan gas di pabrik peleburan untuk menekan emisi HF, SOx, NOx, dan partikulat, melakukan konversi bahan bakar dari solar ke Liquefied Natural Gas (LNG) pada proses pemanggangan anoda, serta menerapkan teknologi Blue Box Control untuk mengurangi emisi gas rumah kaca jenis Perfluorocarbons (PFC).
Komitmen terhadap lingkungan juga diwujudkan melalui program pelestarian Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba yang berfokus pada empat pilar utama, yakni konservasi air, konservasi lahan, konservasi hutan, dan penguatan kapasitas masyarakat. Program tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan.
Sepanjang periode 2022 hingga 2024, Inalum telah merehabilitasi kawasan mangrove seluas 22,9 hektare dengan menanam lebih dari 114.250 bibit mangrove di Kabupaten Batu Bara. Selain itu, perusahaan juga menanam sekitar 515.000 pohon di lahan seluas 1.130 hektare di kawasan Daerah Tangkapan Air Danau Toba sebagai bagian dari upaya rehabilitasi lingkungan.
Utrich menegaskan, berbagai program tersebut menjadi bukti bahwa pembangunan industri dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.
“Melalui berbagai program tersebut, Inalum menegaskan bahwa pembangunan industri dapat berjalan beriringan dengan pelestarian lingkungan. Komitmen ini menjadi bagian dari upaya perusahaan dalam menciptakan masa depan yang lebih hijau, berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan generasi yang akan datang,” ujarnya.













