Batubara – PT Inalum mencatat kenaikan peringkat korporasi menjadi idAA/Stable dari sebelumnya idAA-/Stable berdasarkan hasil pemeringkatan PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo).
Peringkat tersebut berlaku untuk periode 18 Agustus 2026 hingga 1 Juli 2027. Kenaikan satu tingkat ini dinilai memperkuat posisi Inalum di tengah ketidakpastian ekonomi global dan volatilitas pasar.
Direktur Utama Inalum Melati Sarnita mengatakan kenaikan peringkat tersebut menjadi bentuk kepercayaan terhadap fundamental perusahaan. Menurutnya, capaian itu sekaligus menjadi tanggung jawab bagi Inalum untuk menjaga kinerja dan kesehatan keuangan.
“Peningkatan peringkat ini merupakan bentuk kepercayaan sekaligus tanggung jawab bagi Inalum untuk terus menjaga fundamental bisnis dan kesehatan keuangan perusahaan,” ujar Melati, Rabu (2/9/2026).
Melati mengatakan agenda ekspansi perusahaan akan tetap dijalankan dengan mengedepankan disiplin investasi, tata kelola dan struktur pendanaan yang prudent.
“Kami ingin memastikan setiap langkah ekspansi perusahaan tidak hanya meningkatkan daya saing Inalum, tetapi menciptakan nilai perusahaan dalam jangka panjang sekaligus memberikan kontribusi nyata terhadap terwujudnya kemandirian industri aluminium nasional,” katanya.
Kenaikan peringkat tersebut menjadi capaian positif setelah Pefindo mempertahankan peringkat Inalum pada level idAA-/Stable selama dua periode sebelumnya, yakni 2024 dan 2025.
Capaian ini juga memperkuat posisi Inalum sebagai perusahaan strategis dalam pengembangan rantai nilai aluminium nasional. Sebagai bagian dari Grup MIND ID, Inalum terus mengembangkan bisnis untuk mendorong integrasi industri aluminium dari hulu hingga hilir.
Salah satu kekuatan Inalum berada pada perannya dalam pengembangan rantai nilai terintegrasi bauksit hingga aluminium. Pengembangan tersebut didukung sejumlah proyek strategis, termasuk Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I dan II serta Smelter Aluminium II.
Di pasar domestik, Inalum juga memiliki posisi strategis sebagai satu-satunya produsen aluminium primer hijau di Indonesia. Posisi tersebut dinilai semakin penting seiring dengan prospek pertumbuhan permintaan aluminium di dalam negeri maupun global.
Dari sisi operasional, daya saing Inalum turut didukung efisiensi biaya. Cash cost perusahaan tercatat berada pada kuartil pertama dalam kurva biaya global.
Selain itu, Inalum memiliki basis pelanggan yang terdiversifikasi serta dukungan sumber energi dari pembangkit listrik tenaga air yang menjadi salah satu keunggulan struktural perusahaan.
Di sisi keuangan, kebutuhan pendanaan Inalum diproyeksikan meningkat pada periode 2026-2029 seiring pengembangan sejumlah proyek strategis, termasuk SGAR II dan Smelter Aluminium II.
Meski demikian, perusahaan menyatakan kebutuhan pendanaan tersebut akan dikelola melalui strategi yang terukur dan terdiversifikasi dengan tetap menjaga struktur permodalan, likuiditas dan kemampuan menghasilkan arus kas yang sehat.
Melati menegaskan kenaikan peringkat menjadi idAA/Stable bukan hanya mencerminkan kondisi perusahaan saat ini, tetapi juga menjadi fondasi untuk menjalankan agenda pertumbuhan ke depan.
Inalum akan menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis, disiplin finansial, efisiensi operasional dan tata kelola perusahaan.
“Melalui penguatan fundamental dan penyelesaian berbagai proyek strategis perusahaan, Inalum berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas dan daya saing industri aluminium nasional sekaligus memperkuat kontribusi perusahaan terhadap agenda hilirisasi dan penciptaan nilai tambah sumber daya mineral di dalam negeri untuk terwujudnya kemandirian aluminium Indonesia,” ujarnya.













