Inalum Raih Rating BBB- dari S&P, Perkuat Hilirisasi Aluminium Nasional

Batubara – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) memperoleh peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings, Senin (14/9/2026). Peringkat tersebut menempatkan Inalum pada level investment grade sekaligus memperkuat kredibilitas perusahaan di pasar keuangan domestik dan internasional.

Dalam laporan yang diterbitkan September 2026, S&P Global Ratings menilai posisi strategis Inalum dalam Grup MIND ID serta kuatnya dukungan pemerintah melalui MIND ID terhadap perusahaan.

S&P Global Ratings juga menilai Inalum memiliki peran penting dalam mendorong hilirisasi bauksit dan pengembangan rantai nilai aluminium nasional, sejalan dengan agenda strategis MIND ID untuk memperkuat industri mineral dan logam terintegrasi di Indonesia.

Keterkaitan yang erat dengan MIND ID, baik secara strategis maupun finansial, turut memperkuat profil kredit Inalum sekaligus mendukung keberlanjutan pengembangan bisnis dan investasi perusahaan.

Outlook stabil mencerminkan ekspektasi S&P Global Ratings terhadap keberlanjutan kinerja operasional dan arus kas Inalum serta konsistensi dukungan MIND ID dalam menopang peran strategis perusahaan bagi pengembangan industri aluminium nasional.

Pencapaian rating internasional tersebut melengkapi penguatan profil kredit Inalum di pasar domestik. Pada Agustus 2026, PEFINDO meningkatkan peringkat Inalum satu tingkat dari idAA-/Stable menjadi idAA/Stable, setelah perusahaan mempertahankan peringkat idAA-/Stable selama tiga tahun sebelumnya.

Pemeringkatan internasional dan peningkatan peringkat domestik itu berlangsung ketika Inalum tengah mempersiapkan peningkatan kebutuhan pendanaan untuk mendukung berbagai proyek hilirisasi aluminium pada periode 2026-2029.

Dalam penilaiannya, S&P Global Ratings turut menyoroti struktur biaya operasional Inalum yang kompetitif. Perusahaan tercatat mampu beroperasi pada kuartil pertama kurva biaya global dibandingkan rata-rata industri pada 2026.

Efisiensi tersebut didukung pasokan energi hidro yang stabil serta integrasi sumber bahan baku domestik. Keunggulan biaya ini dinilai menjadi salah satu kekuatan kredit Inalum sekaligus memberikan daya tahan perusahaan dalam menghadapi dinamika harga aluminium global.

Baca Juga:  Inalum Dukung Program Pasar Murah di Batubara

Pemanfaatan pembangkit listrik tenaga air juga dinilai mendukung operasional smelter Inalum. Selain berkontribusi terhadap pengurangan emisi karbon, sumber energi tersebut turut mendukung profitabilitas dan efisiensi biaya produksi perusahaan.

Saat ini, Inalum mengoperasikan smelter aluminium primer dengan kapasitas produksi sekitar 275 ribu ton per tahun. Melalui kepemilikan mayoritas di PT Borneo Alumina Indonesia (BAI), Inalum juga telah mengatasi ketergantungan impor bahan baku alumina.

BAI mengoperasikan Smelter-Grade Alumina Refinery 1 (SGAR 1) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.

Posisi strategis Inalum dalam integrasi Grup MIND ID dan hilirisasi aluminium juga menjadi landasan dukungan berkelanjutan dari induk perusahaan. Peran tersebut diperkuat melalui pengembangan SGAR 2 dan Smelter Aluminium 2 (Smelter 2) yang merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional.

SGAR 2 direncanakan menambah kapasitas produksi alumina sekitar 1 juta ton per tahun, sehingga kapasitas alumina menjadi dua kali lipat dari kapasitas yang ada saat ini.

Sementara Smelter 2 dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 600 ribu ton aluminium per tahun. Dengan penambahan tersebut, total kapasitas smelter aluminium primer Inalum akan meningkat lebih dari tiga kali lipat dibandingkan kapasitas saat ini.

Pengembangan proyek-proyek tersebut juga didukung pemegang saham utama melalui kemitraan strategis maupun dukungan permodalan. Proyek tersebut dinilai berpotensi meningkatkan kapasitas dan pendapatan Inalum secara signifikan hingga 2030.

Kondisi industri yang positif diperkirakan turut mendukung kinerja Inalum dalam satu hingga dua tahun ke depan. Harga aluminium diperkirakan tetap suportif seiring kondisi pasokan global yang ketat, sementara stabilnya volume penjualan dari smelter eksisting akan menopang pertumbuhan EBITDA perusahaan.

Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, mengatakan pencapaian tersebut menjadi pengakuan sekaligus momentum bagi perusahaan untuk terus memperkuat fundamental bisnis dan menjalankan transformasi industri aluminium nasional secara berkelanjutan.

Baca Juga:  Adik Hantam Abang hingga Tewas

“Investment grade ini merupakan pengakuan sekaligus tanggung jawab bagi Inalum untuk terus menjaga kinerja perusahaan secara prudent dan berkelanjutan. Di tengah agenda ekspansi dan hilirisasi, kami akan memastikan bahwa pertumbuhan tidak hanya mengejar skala, tetapi tetap dibangun di atas fundamental operasional yang kuat, disiplin finansial, dan tata kelola yang baik dan kuat,” ujar Melati.

“Dengan dukungan MIND ID, kami akan terus memperkuat rantai nilai aluminium nasional dari hulu ke hilir. Pengembangan SGAR 2 dan Smelter 2 tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas, tetapi juga untuk memperkuat kemandirian bahan baku, daya saing industri aluminium nasional serta menciptakan nilai jangka panjang bagi Indonesia,” sambungnya.

Ke depan, Inalum akan terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan, disiplin finansial dan keunggulan operasional. Melalui pengembangan rantai nilai aluminium yang semakin terintegrasi, Inalum berkomitmen memperkuat daya saing industri nasional, mengurangi ketergantungan impor dan meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral Indonesia secara berkelanjutan.

Penulis

  • Alpian

    Alpian adalah wartawan Metropublik.com yang aktif meliput isu pemerintahan kabupaten Batubara, hukum, politik, dan sosial kemasyarakatan di Sumatera Utara.