MBG Basi, Alarm Keras Kegagalan Pengawasan

Oleh : Redi Aman Gulo

Peristiwa di SMP Negeri 1 Pantai Labu, Kabupaten Deli Serdang, tidak bisa lagi dianggap sebagai insiden biasa. Ketika siswa membuang paket Makanan Bergizi Gratis (MBG) ke jalan, publik seharusnya tidak buru-buru menyalahkan cara protes mereka. Yang lebih mendesak untuk dipertanyakan adalah: bagaimana mungkin program yang membawa nama “bergizi” justru menyajikan makanan yang diduga basi?

Ini bukan sekadar kelalaian teknis. Ini adalah cermin dari rapuhnya sistem pengawasan. Program MBG, yang digadang-gadang sebagai upaya strategis meningkatkan kualitas gizi generasi muda, justru tercederai oleh persoalan mendasar: kelayakan konsumsi. Makanan yang tidak aman bukan hanya gagal memenuhi tujuan program, tetapi juga berpotensi membahayakan kesehatan siswa.

Alasan perubahan jadwal distribusi akibat libur nasional tidak bisa dijadikan pembenaran. Justru dalam situasi seperti itu, standar pengelolaan harus diperketat. Fakta bahwa makanan dimasak sejak pagi dan diduga basi saat dikonsumsi menunjukkan adanya kegagalan dalam manajemen waktu, penyimpanan, dan distribusi. Ini bukan persoalan sepele, melainkan kegagalan sistemik.

Lebih jauh, kejadian ini mengindikasikan adanya celah serius dalam rantai pengawasan mulai dari dapur produksi hingga ke tangan siswa. Pertanyaannya, di mana fungsi kontrol kualitas? Apakah ada standar yang benar-benar dijalankan, atau sekadar formalitas di atas kertas? Tanpa pengawasan yang ketat dan akuntabilitas yang jelas, program sebesar apa pun akan mudah tergelincir menjadi proyek administratif tanpa dampak nyata.

Aksi siswa membuang makanan memang bukan langkah ideal. Namun, tindakan itu adalah bentuk protes spontan terhadap hak yang diabaikan. Mereka tidak sedang menolak programnya, melainkan menolak kualitas yang tidak layak. Pesan ini seharusnya dibaca dengan jernih oleh para pemangku kebijakan.

Peristiwa ini harus menjadi titik balik. Evaluasi tidak cukup dilakukan di permukaan. Pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait wajib melakukan audit menyeluruh terhadap sistem distribusi MBG, memastikan standar keamanan pangan benar-benar diterapkan, bukan sekadar slogan. Transparansi dan tanggung jawab harus ditegakkan, karena yang dipertaruhkan bukan hanya citra program, tetapi kesehatan generasi muda.

Baca Juga:  Natal dan Tanggung Jawab Sosial: Saatnya Solidaritas Jadi Kebiasaan

Jika makanan bergizi saja tidak bisa dijamin kelayakannya, maka yang bermasalah bukan hanya pelaksana di lapangan, tetapi keseluruhan sistem yang membiarkannya terjadi. Dan selama itu belum dibenahi, kejadian serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk terulang kembali.