Korupsi Kredit dan Bobolnya Pengawasan Bank

Keberhasilan Kejaksaan Tinggi Sumatera Selatan menyelamatkan uang negara hingga Rp1,2 triliun dalam perkara dugaan korupsi fasilitas kredit bank pemerintah patut dicatat. Namun, di balik angka fantastis itu, tersimpan persoalan yang jauh lebih besar: rapuhnya pengawasan dalam sistem perbankan negara.

Kasus ini tidak sekadar berbicara tentang penyalahgunaan kredit. Dugaan penggunaan data masyarakat tanpa izin, pemalsuan dokumen, hingga manipulasi pengajuan Kredit Usaha Rakyat menunjukkan adanya celah pengawasan yang begitu longgar. Sulit membayangkan praktik semacam itu dapat berjalan tanpa lemahnya kontrol internal dan pengabaian prosedur.

Ironisnya, program kredit yang seharusnya menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi rakyat justru diduga dimanfaatkan untuk kepentingan segelintir pihak. Ketika integritas pengelolaan runtuh, dana publik yang mestinya membantu pelaku usaha kecil berubah menjadi sumber bancakan.

Penindakan hukum oleh Kejati Sumsel tentu penting. Namun, persoalan utama tidak boleh berhenti pada pengembalian kerugian negara atau penetapan tersangka semata. Kasus ini semestinya menjadi alarm keras bagi sektor perbankan pemerintah yang selama ini kerap berlindung di balik prosedur administratif, tetapi lemah dalam pengawasan substansi.

Publik berhak mempertanyakan bagaimana data masyarakat bisa digunakan tanpa izin, bagaimana dokumen diduga dipalsukan, dan bagaimana kredit dapat dicairkan tanpa verifikasi memadai. Jika mekanisme pengawasan berjalan ketat, praktik semacam ini seharusnya dapat terdeteksi sejak awal.

Karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengawasan kredit di bank pemerintah tidak bisa ditunda lagi. Transparansi, audit internal, dan penguatan kontrol harus dilakukan secara serius, bukan sekadar formalitas pasca-kasus mencuat.

Pada akhirnya, korupsi di sektor perbankan bukan hanya merugikan keuangan negara. Lebih dari itu, ia merusak kepercayaan publik terhadap lembaga yang seharusnya menjadi penopang ekonomi masyarakat. Jika pengawasan tetap lemah, skandal serupa hanya tinggal menunggu waktu untuk kembali terulang.

Baca Juga:  Jalan Rusak dan Nyawa yang Dipertaruhkan
Penulis: Redi Aman GuloEditor: Redaksi