Jalan Rusak dan Nyawa yang Dipertaruhkan

Jalan Rusak dan Nyawa yang Dipertaruhkan

Kecelakaan maut Bus ALS dan mobil tangki di Musi Rawas Utara yang menewaskan 16 orang seharusnya tidak dipandang semata sebagai musibah lalu lintas biasa. Tragedi ini kembali memperlihatkan betapa lemahnya pengawasan terhadap keselamatan transportasi darat di Indonesia.

Dugaan awal bahwa bus menghindari lubang jalan sebelum hilang kendali menunjukkan persoalan infrastruktur masih menjadi ancaman serius bagi pengguna jalan. Jalan rusak di jalur lintas utama bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan menyangkut keselamatan dan nyawa manusia.

Namun, persoalan tidak berhenti pada infrastruktur. Temuan adanya tabung gas, mesin motor, hingga sepeda motor di dalam bus juga memunculkan pertanyaan besar mengenai pengawasan terhadap kelayakan dan kapasitas angkutan umum. Bus penumpang semestinya tidak berubah fungsi menjadi kendaraan pengangkut barang yang berisiko tinggi memperparah dampak kecelakaan.

Tragedi ini menunjukkan bahwa keselamatan transportasi masih kerap dikalahkan oleh kelalaian, lemahnya pengawasan, dan pembiaran terhadap pelanggaran yang dianggap biasa. Padahal, kecelakaan besar hampir selalu diawali oleh pelanggaran kecil yang terus dibiarkan.

Karena itu, penyelidikan tidak boleh berhenti pada penetapan penyebab kecelakaan semata. Pemerintah dan aparat penegak hukum perlu mengevaluasi secara menyeluruh kondisi jalan, sistem pengawasan angkutan umum, hingga kepatuhan perusahaan transportasi terhadap standar keselamatan.

Pada akhirnya, tragedi di Muratara harus menjadi peringatan keras bahwa keselamatan publik tidak boleh dikompromikan. Sebab setiap kelalaian di jalan raya selalu berpotensi dibayar dengan nyawa.

Baca Juga:  Politik Anggaran dan Nyawa yang Hilang: Bencana di Sumatera Utara
Penulis: Redi Aman GuloEditor: Redaksi