Empat Nyawa, Siapa Bertanggung Jawab?

Bromo tak sedang meletus. Namun, empat orang tewas saat memadamkan kebakaran hutan pada 15 Oktober 2026. Sukaris, Hendra Rony Wagiyanata, Wisnu Yuda Pratama, dan Sefriel Ardiansyah kehilangan nyawa ketika api mengepung mereka. Dua orang lainnya mengalami luka bakar. Mereka datang menyelamatkan hutan, tetapi tak semuanya pulang.

Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru bukan perkara baru. Kebakaran pada Agustus 2026 diperkirakan melanda 899,35 hektare. Api kembali muncul pada September, sebelum tragedi yang merenggut empat nyawa terjadi pada Oktober. Rentetan ini semestinya menjadi peringatan bahwa pencegahan dan kesiapan menghadapi kebakaran harus diperkuat.

Angin kencang dan medan yang sulit memang menyulitkan pemadaman. Namun, kondisi itu justru menuntut perencanaan keselamatan yang matang. Ketika enam orang terjebak kobaran api akibat perubahan arah angin, publik berhak mengetahui apakah pemantauan cuaca, komunikasi, jalur evakuasi, dan prosedur penarikan petugas telah berjalan sebagaimana mestinya.

Kementerian Kehutanan perlu mengevaluasi operasi pemadaman secara menyeluruh. Polisi juga harus menyelidiki sumber api serta menindaklanjuti kemungkinan pelanggaran jika ditemukan bukti. Penyelidikan jangan hanya berhenti pada penyebab kebakaran, tetapi juga memeriksa apakah ada kelemahan prosedur yang meningkatkan risiko bagi petugas.

Santunan kepada keluarga korban dan perawatan bagi mereka yang terluka memang penting. Namun, belasungkawa tidak cukup untuk menutup persoalan. Negara wajib memperbaiki peralatan, pelatihan, sistem komunikasi, dan prosedur evakuasi agar tragedi serupa tidak berulang. Keberanian petugas tidak boleh dijadikan pengganti kesiapan dan perlindungan yang memadai.

Bromo adalah kekayaan alam yang harus dijaga. Namun, keselamatan orang-orang yang melindunginya tidak boleh menjadi taruhan. Empat nyawa telah melayang; pemerintah harus menjelaskan apa yang terjadi dan memastikan perbaikan nyata. Api mungkin sulit dikendalikan, tetapi tanggung jawab tak boleh ikut menghilang bersama asap.

Baca Juga:  Menjaga Kualitas Program Makanan Bergizi Gratis untuk Masa Depan yang Lebih Sehat

Penulis

  • Rediaman Gulo

    Rediaman Gulo adalah Pemimpin Redaksi Metropublik.com yang aktif meliput isu pemerintahan, hukum, politik, dan sosial kemasyarakatan di Sumatera Utara.