Batubara – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) secara resmi melakukan groundbreaking Fasilitas Pengolahan dan Pemurnian bauksit–alumina–aluminium sebagai langkah strategis mendukung kebijakan hilirisasi mineral nasional, Jumat (13/2).
Proyek ini menjadi bagian dari komitmen Inalum bersama MIND ID dalam menjalankan amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, serta selaras dengan arah kebijakan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan hilirisasi sebagai pilar utama penguatan industri nasional.
Direktur Utama Inalum, Melati Sarnita, menyatakan bahwa hilirisasi bauksit menjadi aluminium akan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam komoditas strategis, khususnya aluminium, sekaligus mendorong target swasembada aluminium pada 2030.
“Hilirisasi bauksit menjadi aluminium merupakan agenda strategis nasional untuk memperkuat kemandirian sektor industri Indonesia. Percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi upaya untuk menekan ketergantungan impor, meningkatkan daya saing, serta membangun rantai pasok aluminium yang terintegrasi dari hulu hingga hilir yang memberikan pertumbuhan ekonomi bagi Indonesia,” ujar Melati.
Fasilitas yang berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat, ini terdiri dari Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase 2 dan Smelter Aluminium. Dibangun di area yang sama dengan SGAR Fase 1 berkapasitas 1 juta ton alumina per tahun, SGAR Fase 2 yang dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia memiliki kapasitas produksi 1 juta ton alumina per tahun.
PT Borneo Alumina Indonesia merupakan anak perusahaan Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM). Dengan beroperasinya SGAR Fase 2, kapasitas produksi alumina domestik akan meningkat menjadi 2 juta ton per tahun, dengan kebutuhan bijih bauksit sekitar 6 juta ton per tahun yang dipasok dari wilayah Izin Usaha Pertambangan ANTAM di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Sementara itu, pasokan listrik untuk Smelter Aluminium kedua akan diperoleh dari PT Bukit Asam Tbk.
Smelter Aluminium Mempawah dirancang memiliki kapasitas produksi sebesar 600.000 ton per tahun, dengan seluruh produksinya diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan aluminium dalam negeri. Jika digabungkan dengan produksi aluminium Inalum di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, total kapasitas produksi aluminium Inalum diproyeksikan mencapai sekitar 900.000 ton per tahun.
Pembangunan dan pengoperasian fasilitas terpadu ini merupakan bagian dari Program Strategis Nasional dengan total nilai investasi sebesar Rp104,55 triliun atau setara USD 6,23 miliar. Proyek ini dinilai strategis dalam memperkuat ketahanan pasokan bahan baku industri aluminium nasional, mengurangi ketergantungan impor, serta meningkatkan posisi Indonesia dalam rantai pasok aluminium global.
Dari sisi dampak ekonomi, proyek ini diperkirakan mampu meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) sekitar Rp71,8 triliun per tahun serta menambah penerimaan negara hingga Rp6,6 triliun per tahun. Selain itu, fasilitas terpadu ini berpotensi menyerap sekitar 65.000 tenaga kerja, baik secara langsung maupun tidak langsung, mulai dari tahap konstruksi hingga operasional serta sektor pendukung lainnya.
Groundbreaking fasilitas bauksit–alumina–aluminium ini menegaskan komitmen Inalum dan Grup MIND ID dalam mengakselerasi hilirisasi mineral nasional secara berkelanjutan. Melalui sinergi korporasi dalam negeri, dukungan kebijakan pemerintah, serta penguatan rantai pasok dari hulu hingga hilir, Inalum optimistis pembangunan ekosistem aluminium nasional yang mandiri dan berdaya saing global dapat terwujud serta memberikan nilai tambah nyata bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang. (AP)













