Danantara Indonesia Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase I, Nilai Investasi Capai US$ 7 Miliar

Danantara Indonesia Resmikan 6 Proyek Hilirisasi Fase I, Nilai Investasi Capai US$ 7 Miliar

Batubara – Danantara Indonesia secara serentak melaksanakan groundbreaking enam proyek hilirisasi fase I di 13 lokasi di Indonesia dengan total nilai investasi mencapai US$ 7 miliar, Jumat (13/2/2026).

Proyek-proyek tersebut merupakan bagian dari agenda transformasi ekonomi nasional guna memperkuat sektor riil, meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Secara keseluruhan, proyek ini diperkirakan akan menyerap lebih dari 6.000 tenaga kerja langsung.

Peresmian serentak ini menandai dimulainya implementasi proyek-proyek prioritas hilirisasi fase I yang dikelola secara terintegrasi lintas sektor, di antaranya sektor energi, pangan, mineral, dan logam, sebagai fondasi penguatan struktur industri nasional dan pengurangan ketergantungan impor secara bertahap.

CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa program hilirisasi merupakan agenda strategis yang menjadi prioritas Pemerintah Republik Indonesia sekaligus menjadi fokus utama Danantara dalam mendorong transformasi ekonomi nasional.

“Tahap awal proyek-proyek ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang nyata bagi perekonomian Indonesia, baik melalui penciptaan nilai tambah industri maupun penyerapan tenaga kerja. Ke depan, proyek-proyek hilirisasi ini diharapkan menjadi tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, dan berdaya saing global,” ujar Rosan.

Dalam rangkaian peresmian tersebut, MIND ID bersama anggotanya INALUM dan ANTAM meresmikan fasilitas pengolahan dan pemurnian bauksit alumina aluminium yang berlokasi di Mempawah, Kalimantan Barat.

Fasilitas ini terdiri dari smelter aluminium baru dengan kapasitas 600.000 metrik ton aluminium per tahun dan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dengan kapasitas 1 juta metrik ton alumina per tahun. Proyek ini ditujukan untuk mendukung program ketahanan mineral nasional serta memperkuat pasokan bahan baku industri manufaktur dalam negeri sebagai bagian dari penguatan rantai nilai industri nasional.

Baca Juga:  Polres Langkat Tangkap Sindikat Spesialis Pencurian di Rumah Kosong dan Kantor Pemerintah

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, mengatakan bahwa proyek tersebut mampu meningkatkan nilai tambah hingga 70 kali lipat, dari bauksit mentah menjadi alumina dan aluminium. Harga bauksit mentah berada di kisaran US$ 40 per metrik ton, meningkat menjadi sekitar US$ 400 per metrik ton setelah diolah menjadi alumina, dan melonjak hingga sekitar US$ 2.800–US$ 3.000 per metrik ton ketika diproses menjadi aluminium.

Menurutnya, saat smelter aluminium baru beroperasi, cadangan devisa diperkirakan meningkat signifikan hingga 394 persen, dari Rp11 triliun menjadi Rp52 triliun per tahun. Selain itu, pelaku industri manufaktur akan memperoleh kepastian pasokan bahan baku dari dalam negeri sehingga dapat menekan ketergantungan impor.

“Proyek ini adalah bentuk kontribusi Grup MIND ID dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat ekonomi, dan memperkuat kedaulatan negara pada sektor mineral demi masa depan Indonesia,” pungkas Maroef.

Peresmian tersebut turut dihadiri Gubernur Kalimantan Barat, anggota DPR RI Komisi XII, Bupati Mempawah, Raja Mempawah XIV, Dewan Adat Dayak, serta jajaran direksi dan komisaris MIND ID, ANTAM, Bukit Asam, INALUM, dan PT Borneo Alumina Indonesia.

Pelaksanaan proyek-proyek hilirisasi ini sejalan dengan arahan Presiden Republik Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi nasional melalui penguatan sektor riil, peningkatan nilai tambah sumber daya domestik, serta pembangunan industri yang berdaya saing dan berkelanjutan. Danantara Indonesia bersama BUMN memastikan proyek-proyek prioritas tersebut direalisasikan secara disiplin, tepat waktu, dan memberikan dampak ekonomi nyata. (AP)